Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin pagi dibuka menguat 0,24 persen ke posisi 6.652,09, namun analis memperkirakan indeks masih rentan mengalami koreksi lanjutan di tengah pelaku pasar yang mencermati sentimen global dan domestik. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut support terdekat berada di level 6.595, sementara potensi rebound hanya akan terjadi jika indeks mampu menembus resistance 6.681.
JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini diprediksi masih akan bergerak mendatar atau sideways. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual diperkirakan masih membayangi pasar modal Tanah Air.
Analis dari Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan bahwa IHSG berpotensi kembali mengalami pelemahan. Level support terdekat yang perlu dicermati berada di angka 6.595, kemudian 6.551, dan 6.525.
"Jika mampu rebound, IHSG berpotensi kembali ke resistance 6.681 atau 6.704 dan lanjut menutup area gap 6.723," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara, investor masih berhati-hati setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat memunculkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai berkurang setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga apabila tekanan harga terus mereda.
"Perubahan ekspektasi itu kemudian memberikan dorongan terhadap aset berisiko di sejumlah pasar Asia," kata Liza.
Meski demikian, risiko geopolitik masih menjadi momok. Ketegangan antara AS dengan Iran serta konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda berpotensi mengganggu perdagangan dan rantai pasok global, terutama di sektor komoditas dan inflasi.
Dari kawasan Asia, perhatian pasar tertuju pada kebijakan pemerintah China yang mengumumkan suntikan modal sekitar 54 miliar dolar AS kepada perusahaan asuransi dan bank milik negara. Langkah ini ditempuh Beijing untuk memperkuat permodalan sektor keuangan sekaligus menopang stabilitas pasar modal mereka.
Bursa regional Asia pagi ini bergerak variatif. Nikkei menguat signifikan 2,28 persen, Kospi melesat 2,99 persen, dan Shanghai naik tipis 0,18 persen. Sebaliknya, Hang Seng melemah 0,69 persen dan Straits Times turun 0,41 persen.
Dari dalam negeri, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi sentimen negatif yang membayangi. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara menghentikan sementara operasional penerbangannya pada 7 September, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara.
"Gangguan berpotensi menekan aktivitas transportasi, pariwisata, serta distribusi barang apabila erupsi dan dampak abu vulkanik berlangsung lebih lama," jelas Liza.
Sepanjang pekan ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Agustus, serta penjualan ritel periode Juli. Di sisi lain, pemerintah juga tengah melanjutkan restrukturisasi BUMN dengan menutup 290 perusahaan yang menghemat sekitar Rp50 triliun.
"Kebijakan ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan profitabilitas BUMN, sekaligus diperkuat oleh percepatan hilirisasi sumber daya alam," pungkas Liza.