AMBON — Warga Maluku harus merogoh kocek lebih dalam pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi tahunan mencapai 3,68 persen, meningkat dibandingkan inflasi Juli 2026 yang berada di level 2,75 persen.
Kenaikan ini tidak hanya terjadi di ibu kota provinsi. Data BPS yang dipaparkan Selasa (1/9/2026) menunjukkan laju inflasi di Kabupaten Maluku Tengah menjadi yang tertinggi di angka 4,27 persen, disusul Kota Tual 4,08 persen.
Kepala BPS Provinsi Maluku Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau, sebanyak 10 kelompok mengalami kenaikan indeks pada Agustus 2026. Hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mencatat penurunan sebesar 2,47 persen.
Komoditas utama yang mendorong inflasi tahunan di Maluku didominasi bahan pangan dan transportasi. Sepanjang tahun berjalan, tarif angkutan udara melonjak hingga 12,13 persen dan menjadi penyumbang terbesar. Di sektor pangan, ikan cakalang, ikan tongkol/komu, cabai merah, dan kangkung tercatat memberikan andil signifikan terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan indeks terbesar dengan inflasi mencapai 12,13 persen, disusul kelompok kesehatan sebesar 6,47 persen,” kata Pattiwaellapia dalam paparannya di Ambon, Selasa (1/9/2026).
Selain kebutuhan pokok, kenaikan harga juga menjalar ke sektor kesehatan dan pendidikan. Tarif rumah sakit, biaya akademi atau perguruan tinggi, serta emas perhiasan menjadi komoditas yang turut menyumbang inflasi tahunan di Maluku.
Pattiwaellapia merincikan, kenaikan juga terjadi pada harga mobil, sepeda motor, bahan bakar rumah tangga, pelumas atau oli mesin, serta biaya pemeliharaan atau service kendaraan. Harga daging ayam ras, minyak goreng, dan ketimun juga turut mendorong laju inflasi periode ini.
Secara bulanan (month to month), Provinsi Maluku juga mencatat inflasi sebesar 0,81 persen pada Agustus 2026. Lonjakan harga terutama terjadi pada komoditas sayuran dan ikan laut segar yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Kangkung, kacang panjang, sawi hijau, dan buncis menjadi pemicu utama inflasi bulanan. Dari kelompok perikanan, ikan layang/momar, ikan selar/kawalinya, dan ikan cakalang mengalami kenaikan harga yang cukup tajam. Selain itu, tarif angkutan laut juga ikut menyumbang tekanan inflasi pada bulan tersebut.