IHSG Senin Berpotensi Sideways, Pasar Tunggu Sinyal Perang Dagang AS-Kanada dan Defisit Transaksi Berjalan

Penulis: Ragil  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 13:04:31 WIB
IHSG dibuka menguat 18,31 poin ke posisi 6.544,00 pada perdagangan Senin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin ini berpotensi bergerak sideways di tengah pelaku pasar yang mencermati sentimen global dan domestik. Pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) yang diproyeksikan mencapai 2,5-3,0 persen dari PDB pada 2026 menjadi salah satu tekanan utama dari dalam negeri.

JAKARTA — IHSG dibuka menguat 18,31 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.544,00 pada perdagangan Senin. Namun, penguatan ini diperkirakan terbatas karena investor masih menimbang risiko geopolitik Timur Tengah dan eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pergerakan indeks akan sangat bergantung pada kemampuan bertahan di area support. "Apabila IHSG mampu bertahan di atas area 6.462-6.408, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.602, dengan resistance lanjutan di sekitar 6.723," ujarnya dalam kajian di Jakarta, Senin.

Konflik Iran-AS dan Tarif Baru Kanada Membayangi Pasar

Dari mancanegara, risiko konflik antara AS dan Iran masih menjadi momok utama karena berpotensi mengganggu pasokan energi global. Meski begitu, sinyal Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menyatakan Teheran lebih memilih mengakhiri perang ketika masih berada dalam posisi kuat mulai meredakan sebagian kekhawatiran pasar.

Ketegangan dagang AS-Kanada kembali memanas setelah AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap produk Kanada senilai sekitar 20 miliar dolar AS. Kanada berencana membalas secara "dollar for dollar" mulai 8 September 2026, dengan fokus pada sektor baja, produk susu, peralatan rumah tangga, alat pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai tuntutan terakhir AS terlalu besar dan tawarannya terlalu kecil. Eskalasi ini berpotensi menekan rantai pasok dan perdagangan bilateral kedua negara.

Defisit Transaksi Berjalan Diprediksi Melebar, Rupiah Tertekan

Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada proyeksi defisit transaksi berjalan (CAD) yang melebar menjadi 2,5-3,0 persen dari PDB pada 2026, dibandingkan posisi 0,11 persen PDB pada 2025. Pada kuartal II 2026, CAD telah mencapai 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen PDB.

Liza menjelaskan pelebaran CAD didorong impor yang lebih kuat seiring agenda pro-pertumbuhan pemerintah, sementara ekspor berpotensi tertekan lemahnya permintaan global, khususnya dari China. "Kondisi ini berpotensi menekan posisi eksternal dan Rupiah, terutama jika tidak diimbangi oleh arus modal masuk yang kuat," kata Liza.

Meski transaksi modal dan finansial berbalik surplus 12,0 miliar dolar AS pada kuartal II-2026 dari sebelumnya defisit 4,8 miliar dolar, arus modal tetap rentan terhadap meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen risk-off.

Insentif Pajak dan Data Inflasi AS Jadi Katalis Berikutnya

Pemerintah membuka opsi memperpanjang tax holiday industri pionir hingga 2027 dengan belanja perpajakan diproyeksikan mencapai Rp8,11 triliun. Penerapan Pajak Minimum Global (GMT) berpotensi mengurangi efektivitas insentif ini, sehingga pemerintah mempertimbangkan pergeseran menuju skema refundable tax credit untuk menjaga daya tarik investasi.

Dari AS, data ekonomi yang kuat memberikan dukungan terhadap aset berisiko, namun kenaikan yield obligasi dan kekhawatiran inflasi membatasi penguatan. "Fokus pasar selanjutnya tertuju pada perkembangan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve," ujar Liza.

Sementara itu, bursa saham Eropa dan Wall Street kompak menguat pada Jumat (21/08). Indeks S&P 500 naik 0,43 persen ke 7.647,37, Dow Jones Industrial Average menguat 0,98 persen ke 53.277,01, dan Nasdaq Composite melemah 0,43 persen ke 26.180,46. Adapun di Asia pagi ini, mayoritas indeks bergerak melemah, dengan Kospi turun 2,64 persen dan Hang Seng melemah 2,12 persen.

Reporter: Ragil
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top