Petani Ahiolo dan Watui di Seram Bagian Barat Andalkan Rakit Bambu Angkut Hasil Bumi, Akses Jalan Masih Terputus 5 Kilometer

Penulis: Yasir  •  Senin, 27 Juli 2026 | 14:24:31 WIB
Warga Desa Ahiolo dan Watui di Seram Bagian Barat mengangkut hasil bumi menggunakan rakit bambu menyusuri sungai akibat akses jalan darat yang masih terputus sepanjang lima kilometer.

SERAM BAGIAN BARAT — Dua desa di Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih hidup dalam isolasi infrastruktur. Warga Desa Ahiolo dan Desa Watui hanya bisa mengandalkan rakit bambu untuk mengangkut hasil pertanian menyusuri sungai menuju titik bongkar muat di Jembatan Tala. Sebab, akses jalan darat menuju kedua desa belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

Perjalanan 3-5 Jam Menyusuri Sungai, Angkat Rakit Saat Air Surut

Pada musim panen seperti saat ini, buah campada menjadi komoditas utama yang diangkut warga. Satu ikat berisi empat hingga lima buah dijual dengan harga Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung kualitas dan hasil negosiasi dengan pedagang.

Perjalanan dari Desa Ahiolo atau Watui ke Jembatan Tala memakan waktu tiga hingga lima jam. Lamanya sangat tergantung debit air sungai. Saat air surut, warga harus turun dan mendorong rakit melewati bagian sungai yang dangkal.

"Setengah Mati Angkat-angkat Rakit"

Salah seorang warga Desa Ahiolo, Apsa Waikuty, mengaku perjalanan pagi itu sangat berat karena air sungai kecil. "Berangkat dari Ahiolo jam 8 pagi, sampai di sini sekitar jam 10.40. Karena air kecil sekali, jadi setengah mati angkat-angkat rakit," katanya.

Menurut Apsa, rakit bambu menjadi satu-satunya transportasi yang bisa digunakan warga. "Mobil belum bisa masuk karena akses jalannya belum ada. Masih kurang sekitar lima kilometer dari Jembatan Nui," ujarnya.

Warga lainnya, Ulis Warayan, menyebut perjalanan turun dari desa bisa memakan waktu empat hingga lima jam. "Mobil belum bisa masuk. Kalau ojek masih bisa sampai titik tertentu, tapi rakit ini tetap menjadi alat transportasi utama dari kampung," ungkapnya.

Hasil Bumi Melimpah, Tapi Sulit Dipasarkan

Ulis mengatakan, hasil pertanian warga sebenarnya cukup melimpah. Namun, buruknya infrastruktur membuat distribusi menjadi kendala utama. "Hasil banyak, tapi kendalanya akses jalan. Jadi semua turun pakai rakit. Katong (kami) setengah mati di atas," ujarnya.

Pedagang hasil bumi, Petrus Patty, mengaku langsung memborong seluruh hasil panen yang dibawa petani. "Kami pedagang Ambon membutuhkan barang. Sekali petani turun dari atas, kalau harga cocok kami ambil semua," jelasnya. Buah campada tersebut kemudian dipasarkan kembali di kawasan Pantai Losari, Ambon, dengan harga Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per tali.

Harapan Warga: Jalan Layak Agar Tak Lagi Gunakan Rakit

Warga berharap pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat segera membangun akses jalan menuju Desa Ahiolo dan Desa Watui. Mereka menyebut masih ada sekitar lima hingga tujuh kilometer ruas jalan yang rusak dan belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

"Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah kabupaten, provinsi ataupun pusat supaya akses jalan bisa dibangun sampai ke Ahiolo. Kalau jalan sudah ada, aktivitas masyarakat, termasuk pembangunan gereja dan kegiatan lainnya, akan lebih mudah," harap Apsa Waikuty.

Dengan tersedianya akses jalan yang layak, warga berharap biaya distribusi hasil pertanian bisa ditekan, aktivitas ekonomi meningkat, dan mereka tidak lagi mempertaruhkan keselamatan menggunakan rakit bambu sebagai satu-satunya sarana transportasi.

Reporter: Yasir
Sumber: radiodms.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top