JAKARTA — Tekanan jual masih mendominasi perdagangan saham di awal sesi. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut IHSG berpotensi menguji area support 6.262, 6.181, hingga 6.103 jika tekanan berlanjut. Sebaliknya, resistance berada di kisaran 6.377-6.394 dan 6.454 jika mampu berbalik menguat.
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Gangguan distribusi minyak global kian parah, dengan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun sekitar 75 persen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan meminta pertanggungjawaban Iran jika serangan serupa terulang. Seiring itu, harga minyak mentah melonjak drastis. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 6 persen ke atas 92 dolar AS per barel, sementara Brent menembus 100 dolar AS per barel—level tertinggi sejak awal Juni 2026.
Lonjakan harga energi ini mendorong ekspektasi inflasi global dan memperbesar peluang bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya kembali.
Dari dalam negeri, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) melambat menjadi 8,7 persen year on year (yoy) pada Juni 2026, turun dari 10,8 persen pada Mei 2026. Perlambatan ini mencerminkan pengetatan likuiditas akibat arus modal keluar, kontraksi Net Foreign Assets (NFA), dan penarikan sementara dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke Bank Indonesia.
Kendati demikian, Liza memperkirakan likuiditas mulai membaik dalam jangka pendek hingga menengah seiring potensi kembalinya arus modal asing dan penempatan kembali dana SAL ke bank-bank Himbara. Namun, prospek jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan jika The Fed kembali hawkish atau ketegangan geopolitik terus mendorong harga minyak.
Di tengah tekanan, Indonesia mencatatkan penerbitan perdana Panda Bond di pasar keuangan China dengan bid-to-cover ratio 2,4 kali. Permintaan investor mencapai sekitar 17 miliar Yuan China, jauh di atas nilai penerbitan sebesar 7 miliar Yuan China.
Sementara itu, bursa global kompak tertekan. Pada perdagangan Kamis (23/7), Euro Stoxx 50 melemah 1,63 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,73 persen, serta DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing melemah 1,56 persen dan 1,64 persen. Di Wall Street, S&P 500 turun 1,21 persen ke 7.408,30, Nasdaq Composite ambles 1,87 persen ke 25.454,81, dan Dow Jones melemah 0,97 persen ke 51.711,65.
Bursa Asia pagi ini juga tak luput dari tekanan. Nikkei Jepang ambles 3,12 persen, Kospi Korea Selatan jatuh 3,35 persen, sementara Hang Seng Hong Kong dan Shanghai China masing-masing melemah 1,14 persen dan 0,55 persen.