TANIMBAR — Pemerintah memastikan porsi terbesar gas dari salah satu proyek strategis nasional, Blok Masela, akan mengalir ke dalam negeri. Kebijakan ini membalik pola ekspor yang selama ini mendominasi pengelolaan sumber daya alam migas.
"Produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Pulau Yamdena, Kamis pekan lalu.
Sebagian alokasi gas telah dipersiapkan untuk proyek hilirisasi PT Pupuk yang berencana membangun pabrik di kawasan tersebut. Pasokan juga akan disalurkan ke PT PLN, PGN, dan sejumlah perusahaan swasta.
"Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta. Sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," kata Bahlil.
Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi ini sudah tertuang dalam Plan of Development (PoD) proyek. Langkah ini merespons kebutuhan gas bumi yang terus meningkat untuk sektor industri, pupuk, dan pembangkit listrik nasional.
Lapangan Gas Abadi Blok Masela berlokasi sekitar 180 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura, dengan kedalaman laut 400 hingga 800 meter. Kontrak kerja sama wilayah ini berlaku sejak 1998 hingga 2055.
Proyek ini ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel kondensat harian. Pengembangannya mencakup sistem produksi bawah laut, FPSO, pipa gas ekspor sepanjang 175 kilometer, serta kilang LNG darat.
Blok Masela juga dirancang menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam proses produksi LNG. Teknologi ini menjadi salah satu syarat agar proyek migas besar bisa berjalan seiring target netralitas karbon nasional.
Selama ini, sebagian besar gas dari blok-blok besar lebih banyak diekspor dalam bentuk LNG. Pemerintah ingin memastikan nilai tambah dari sumber daya alam ini dirasakan langsung oleh industri dan masyarakat di dalam negeri, khususnya di Maluku dan sekitarnya.
Dengan alokasi 60 persen untuk domestik, pasokan gas untuk pembangkit listrik dan industri pupuk diharapkan lebih stabil. Hal ini sekaligus menekan biaya produksi dan harga energi di tingkat konsumen.
Produksi gas Blok Masela dijadwalkan mulai mengalir setelah seluruh fasilitas darat dan laut rampung dibangun. Pemerintah menargetkan proyek ini bisa memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspor sesuai kesiapan pasar.