Pelajar SMA Malteng Terus Rayakan Kelulusan dengan Konvoi dan Pesta, Disdikbud Menyayangkan

Penulis: Ragil  •  Kamis, 07 Mei 2026 | 17:41:01 WIB
Pelajar SMA Maluku Tengah merayakan kelulusan dengan konvoi dan pesta di beberapa wilayah.

AMBON — Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Fanje Mandaku, mengaku sangat menyayangkan perayaan kelulusan yang "heboh-heboh" itu. Meski pihaknya telah menginstruksikan semua SMA di 11 kabupaten/kota agar pengumuman kelulusan dilakukan secara daring dan melarang aksi coret baju serta konvoi, siswa masih mengabaikan larangan tersebut.

Modus: Pesta Diskotek hingga Konvoi dengan Mercon

Video yang beredar memperlihatkan para pelajar merayakan kelulusan dengan menggelar pesta bak diskotek — berjoget, menari mengikuti musik keras di bawah lampu berkedip-kedip. Perayaan semacam itu tergelar di berbagai tempat: Tulehu (Kecamatan Salahutu), Leihitu, dan Pulau Haruku, Maluku Tengah.

Di Pulau Haruku, para siswa bahkan menggelar konvoi dalam perkampungan sambil menyalakan mercon dan menggedor-gedor pedal gas. Sejumlah video terkait aksi tersebut juga menunjukkan seragam sekolah yang telah diberi gambar dan coretan kalimat.

Praktik Tahunan yang Tetap Bertahan

Udin, salah seorang warga Tulehu, menjelaskan bahwa perayaan kelulusan dengan cara menggelar pesta di desa tersebut telah berlangsung lama. "Ia ada pesta. Siswa yang lulus bikin pesta, lalu joget sampai subuh," katanya saat dihubungi wartawan Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, biasanya sehari menjelang pengumuman kelulusan, para siswa telah menyiapkan tenda dan sistem suara yang disewa. "Itu setiap tahun begitu, anak-anak yang lulus biasanya mereka kumpul uang mereka sewa tenda dan sound untuk bikin acara," jelasnya.

Instruksi Disdikbud Tetap Dilanggar

Sebelum pengumuman kelulusan dilaksanakan, Disdikbud Maluku telah mengirim surat instruksi ke semua SMA untuk mengumumkan kelulusan secara daring agar tidak ada kumpul-kumpulan. Pihak sekolah juga diperintahkan melarang para siswa merayakan kelulusan dengan aksi coret baju, konvoi, dan kegiatan negatif lainnya.

Meskipun demikian, larangan tersebut tetap dilanggar oleh sebagian siswa. Fanje mengakui sulitnya pencegahan karena perayaan semacam itu sudah menjadi kebiasaan tahunan yang tertanam dalam budaya siswa. "Anak-anak biar dilarang lagi mereka punya kebiasaan dan sudah terbiasa setiap tahun jadi pas dengar lulus mereka saling berkabar satu sama lain lalu bikin acara begitu," ucapnya.

Dia juga menekankan bahwa kegiatan perayaan yang terjadi di luar lingkungan sekolah tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan. "Itu sudah diluar lingkungan sekolah dan bukan tanggung jawab sekolah lagi," katanya via telepon.

Koordinasi dengan Kepala Sekolah Dimulai

Fanje mengumumkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan kepala sekolah di beberapa wilayah Maluku Tengah yang siswanya terlibat dalam perayaan kelulusan dengan cara-cara tersebut. "Soal heboh-heboh itu nanti saya komunikasi dengan kepala sekolahnya dulu kita pastikan dulu," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Sarlota Singerin, ketika dimintai keterangan enggan memberikan penjelasan lebih detail dan mengalihkan ke pihak Fanje Mandaku yang menangani secara langsung.

Reporter: Ragil
Sumber: potretmaluku.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top