AMBON — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku melaporkan kondisi inflasi di wilayah tersebut masih berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen. Secara tahunan, angka inflasi Maluku menyentuh 3,13 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,40 persen.
Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dhita Aditya Nugraha, menjelaskan bahwa terkendalinya harga di pasar dipengaruhi oleh deflasi sebesar 0,17 persen (mtm) yang terjadi sepanjang April 2026. Penurunan indeks harga ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Faktor utama pemicu deflasi di Maluku kali ini datang dari sektor perikanan. Cuaca yang relatif kondusif di perairan Maluku berdampak positif pada produktivitas nelayan, sehingga pasokan ke pasar melimpah dan harga terkoreksi turun.
"Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas perikanan seperti ikan selar, ikan layang, dan ikan cakalang," ujar Dhita Aditya Nugraha dalam keterangan resminya di Ambon, Selasa (5/5).
Selain faktor pangan, penurunan harga emas di pasar internasional turut memberikan andil deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,05 persen (mtm). Kombinasi antara stabilitas pangan lokal dan tren komoditas global ini menjadi penyeimbang inflasi daerah.
Secara spasial, performa ekonomi antarwilayah di Maluku menunjukkan dinamika yang beragam. Kabupaten Maluku Tengah menjadi motor utama deflasi dengan catatan penurunan harga sebesar 1,96 persen (mtm).
Namun, tren penurunan harga tersebut tertahan oleh kenaikan biaya di sektor transportasi, khususnya di dua kota utama. Kota Ambon mencatatkan kenaikan kelompok transportasi sebesar 0,92 persen (mtm), sementara Kota Tual menyusul dengan kenaikan 0,64 persen (mtm).
Kenaikan biaya transportasi ini dipicu oleh penyesuaian tarif angkutan udara. Kebijakan tersebut merupakan dampak langsung dari kenaikan harga avtur yang mulai diberlakukan sejak 1 April 2026.
Meski inflasi tahunan Maluku saat ini masih di atas rata-rata nasional yang sebesar 2,42 persen (yoy), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah mitigasi. Fokus utama saat ini adalah menjaga agar gejolak harga pangan tetap rendah melalui intervensi langsung.
"Ke depan, pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui sinergi bersama TPID agar stabilitas harga tetap terjaga," kata Dhita menutup keterangannya.