JAKARTA - Suasana malam di Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, mendadak mencekam ketika kobaran api melahap deretan bangunan yang sebagian besar difungsikan sebagai gudang dan rumah kontrakan.
Dalam waktu singkat, api menjalar ke sejumlah bangunan lain sehingga memaksa Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Kendari mengerahkan kekuatan penuh untuk mencegah kebakaran meluas.
Insiden kebakaran tersebut menjadi salah satu peristiwa besar yang menyita perhatian warga setempat, mengingat lokasi kejadian berada di kawasan padat bangunan dan menyimpan berbagai material mudah terbakar.
Kebakaran Terjadi Menjelang Tengah Malam
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Kendari, Ahriawandy, menyampaikan bahwa kebakaran terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026 malam sekitar pukul 21.45 Wita. Api dengan cepat membesar dan membakar total 14 bangunan yang berada saling berdekatan di lokasi tersebut.
“Kami kerahkan tujuh mobil damkar untuk memadamkan kebakaran 14 bangunan,” kata Ahriawandy saat ditemui di Kendari.
Ia menjelaskan bahwa laporan awal diterima dari warga yang melihat api mulai membesar dari salah satu bangunan gudang. Petugas Damkar kemudian bergerak cepat menuju lokasi guna melakukan penanganan awal dan mencegah api menjalar lebih luas.
Tujuh Mobil Damkar dan Tandon Air Dikerahkan
Dalam proses pemadaman, Dinas Damkar Kota Kendari tidak hanya mengerahkan tujuh unit mobil pemadam kebakaran, tetapi juga melibatkan 13 mobil tandon air yang merupakan mitra Damkar. Selain itu, sejumlah relawan bencana turut membantu di lokasi kejadian.
Ahriawandy menyebut keterlibatan mobil tandon air sangat penting untuk memastikan pasokan air tetap tersedia selama proses pemadaman berlangsung. Mengingat besarnya api dan banyaknya bangunan yang terbakar, kebutuhan air menjadi faktor krusial dalam upaya pengendalian kebakaran.
“Selain tujuh mobil damkar, pemadaman juga melibatkan 13 mobil tandon air yang menjadi mitra Dinas Damkar ketika insiden kebakaran terjadi bersama relawan bencana,” ujarnya.
Kolaborasi antara petugas Damkar, mitra, dan relawan ini menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemadaman dan mencegah kebakaran meluas ke permukiman warga di sekitarnya.
Gudang dan Bangunan Usaha Ikut Terbakar
Sebanyak 14 bangunan yang terdampak kebakaran terdiri dari berbagai jenis fungsi. Ahriawandy merinci bahwa bangunan tersebut meliputi satu kios, tiga rumah makan, sejumlah rumah kontrakan, serta satu gudang penampung hasil bumi.
Gudang tersebut diketahui menyimpan hasil bumi seperti jambu mete dan kopra yang rencananya akan dikirim ke daerah lain. Keberadaan material tersebut membuat api dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan.
“Dugaan sementara penyebabnya karena korsleting listrik atau hubungan arus pendek,” ujar Ahriawandy.
Ia menjelaskan bahwa dugaan awal api bersumber dari satu gudang, kemudian membesar dan merambat ke bangunan lainnya, termasuk kios dan rumah kontrakan yang berada di sekitarnya.
Tidak Ada Korban Jiwa, Kerugian Capai Rp5 Miliar
Beruntung, dalam peristiwa kebakaran tersebut tidak terdapat korban jiwa. Ahriawandy memastikan bahwa seluruh bangunan yang terbakar dalam kondisi ditinggal pemiliknya. Sementara gudang yang diduga menjadi sumber awal kebakaran hanya dijaga oleh satu orang penghuni.
“Seluruh bangunan itu ditinggal oleh pemiliknya sedangkan gudang yang menjadi sumber kebakaran diduga dijaga satu orang penghuni sehingga dipastikan tidak ada korban dalam insiden tersebut,” ujarnya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran ini mengakibatkan kerugian materi yang cukup besar. Ahriawandy memperkirakan total kerugian mencapai sekitar Rp5 miliar, terutama karena adanya gudang yang menampung hasil bumi dalam jumlah besar.
“Kerugian diperkirakan sekitar Rp5 miliar karena ada gudang yang memang menampung hasil bumi untuk dikirim ke daerah lain,” katanya.
Pemadaman Berlangsung Satu Jam dan Terkendala Warga
Proses pemadaman api membutuhkan waktu sekitar satu jam hingga kondisi benar-benar terkendali. Ahriawandy menjelaskan bahwa lamanya proses pemadaman disebabkan oleh material bangunan yang sebagian besar berbahan papan serta adanya hasil bumi yang mudah terbakar di dalam gudang.
Selain itu, situasi di lapangan juga cukup menyulitkan petugas. Banyaknya warga yang datang menyaksikan kebakaran membuat akses mobil pemadam kebakaran menuju titik api menjadi terbatas.
“Pemadaman api membutuhkan waktu selama satu jam karena material bangunan sebagian berbahan papan dan adanya hasil bumi seperti mete di dalam gudang,” ujarnya.
Sementara itu, seorang warga sekitar bernama Asna (23) mengungkapkan bahwa api pertama kali terlihat berasal dari salah satu gedung yang berada di bagian paling ujung.
“Gedung di situ memang ada tempat penyimpanan hasil bumi, tetapi mungkin karena angin kencang juga jadi cepat juga membesar apinya,” ucap Asna.
Ia menambahkan bahwa kondisi angin saat kejadian turut mempercepat penyebaran api ke bangunan-bangunan lain di sekitarnya.
Dengan kejadian ini, Dinas Damkar Kota Kendari kembali mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya yang disebabkan oleh instalasi listrik, serta memastikan lingkungan sekitar tetap aman dan mudah diakses jika terjadi keadaan darurat.